Menjaga Kelestarian Tari-tarian Lombok
Ayuni Aristia Falastari
·
Pendidikan:-SDN 3
Lenek (lulus 2006)
-SMPN 2 Aikmel
(lulus 2009)
-SMAN 2 Aikmel
(lulus 2013)
Ayuni
Aristia Falastari,seorang penari perempuan yang berusia 20 tahun.Perempuan yang
akrab disapa Las ini memiliki obsesi untuk melindungi seni tari Lombok yang
terancam kepunahannya.
Las,warga
Desa Lenek,Kecamatan Aikmel,Kabupaten Lombok Timur,Nusa Tenggara Barat,ini
bukan hanya berusaha melindungi seni tari Lombok dengan cara menguasainya,tetapi
dia berusaha menginventarisasi dan mendokumentasikannya.Posisinya amat penting
dalam melindungi seni tari Lombok,karena sampai saat ini dokumentasi dan
inventarisasi tari-tarian Lombok amat minim.Dia tidak hanya menguasai
tari-tarian Lombok,tetapi dia berusaha mengajak teman-temannya,genarasi
muda,untuk mendalami seni tari ini.
Demi
obsesinya yang besar ini,dia terkadang harus menerima masukan,tantangan,dan
kritik dari sebagian orang tentang tarian Lombok.Salah satu contohnya tentang
tari Lombok dan gamelan Lombok yang dinilai kental pengaruh Bali.Hal tersebut
tidak bisa ditentang karena salah satu kerajaan Bali pernah melakukan ekspansi
ke Lombok.Mendengar hal tersebut,dia tidak mempertentangkan hal
tersebut.Alasannya karena kebudayaan bersifat universal dan kesenian Lombok
sekarang dalam proses “menjadi”,bukan lagi pada proses”menemukan”.
Bagi
dia,menjaga kesenian tradisional bukan berarti saling klaim peninggalan nenek
moyang.Oleh karena universalitas tersebut,tidak mengherankan bila seni tari
Lombok memiliki pengaruh dari luar,meski langgam gerakan tariannya tetap
mempunyai warna lokal.
Bagi
sebagian orang,mungkin sulit memahami dunia tari tersebut,tetapi bagi orang
yang menekuni dunia tari,kekhasan masing-masing tarian Nusantara bisa diketahui
dan dipahami.Las yang menekuni tarian Lombok,misalnya,dia dapat membedakan
gerakan-gerakan tarian khas Lombok dan gerakan tarian khas daerah lain.Memang
tarian tradisional di daerah lain pun sama hal dengan tarian tradisional
Lombok,yang dimana kaum mudanya,umumnya kurang bersemangat untuk menekuninya.
Saat
ini dia sudah menguasai 10 tarian Lombok,seperti tari Gagak Mandiq,tari
Gandrung,tari Tangis,dll.Dia juga mempunyai 45 murid dari siswa SD sampai
SMA.Di samping itu,dia juga melatih para pelajar di sekolah yang mengajarkan
seni tari sebagai muatan lokal di Desa Lenek.Dia beserta anak didiknya juga
diminta mengisi berbagai acara di tingkat kecamatan sampai Pemerintah Kabupaten
Lombok Timur.
Meski
pun obsesinya besar dalam perkembangan seni tari Lombok,tetapi penghasilan yang
didapat terkadang tidak menentu.Kalau dalam pentas seni,ia hanya mendapat honor
sekitar Rp 150.000 dan honor sebagai pengajar tari di sekolah Rp 50.000,tidak
besar penghasilan dia dapat.
Walau
penghasilan minim,ia berharap suatu saat ia bisa masuk ke perguruan tinggi yang
membuka jurusan seni tari.”Saya ingin punya pengetahuan teori,enggak cuma bisa
menari karena praktik.”ujarnya.
Sumber:Kompas,Sabtu 19 Juli 2014

Komentar
Posting Komentar