Menjaga Kelestarian Tari-tarian Lombok

 

Ayuni Aristia Falastari
·        Lahir            : NTB,6 Juni 1994
·        Pendidikan:-SDN 3 Lenek (lulus 2006)
   -SMPN 2 Aikmel (lulus 2009)
   -SMAN 2 Aikmel (lulus 2013)

          Ayuni Aristia Falastari,seorang penari perempuan yang berusia 20 tahun.Perempuan yang akrab disapa Las ini memiliki obsesi untuk melindungi seni tari Lombok yang terancam kepunahannya.
          Las,warga Desa Lenek,Kecamatan Aikmel,Kabupaten Lombok Timur,Nusa Tenggara Barat,ini bukan hanya berusaha melindungi seni tari Lombok dengan cara menguasainya,tetapi dia berusaha menginventarisasi dan mendokumentasikannya.Posisinya amat penting dalam melindungi seni tari Lombok,karena sampai saat ini dokumentasi dan inventarisasi tari-tarian Lombok amat minim.Dia tidak hanya menguasai tari-tarian Lombok,tetapi dia berusaha mengajak teman-temannya,genarasi muda,untuk mendalami seni tari ini.
          Demi obsesinya yang besar ini,dia terkadang harus menerima masukan,tantangan,dan kritik dari sebagian orang tentang tarian Lombok.Salah satu contohnya tentang tari Lombok dan gamelan Lombok yang dinilai kental pengaruh Bali.Hal tersebut tidak bisa ditentang karena salah satu kerajaan Bali pernah melakukan ekspansi ke Lombok.Mendengar hal tersebut,dia tidak mempertentangkan hal tersebut.Alasannya karena kebudayaan bersifat universal dan kesenian Lombok sekarang dalam proses “menjadi”,bukan lagi pada proses”menemukan”.
          Bagi dia,menjaga kesenian tradisional bukan berarti saling klaim peninggalan nenek moyang.Oleh karena universalitas tersebut,tidak mengherankan bila seni tari Lombok memiliki pengaruh dari luar,meski langgam gerakan tariannya tetap mempunyai warna lokal.
          Bagi sebagian orang,mungkin sulit memahami dunia tari tersebut,tetapi bagi orang yang menekuni dunia tari,kekhasan masing-masing tarian Nusantara bisa diketahui dan dipahami.Las yang menekuni tarian Lombok,misalnya,dia dapat membedakan gerakan-gerakan tarian khas Lombok dan gerakan tarian khas daerah lain.Memang tarian tradisional di daerah lain pun sama hal dengan tarian tradisional Lombok,yang dimana kaum mudanya,umumnya kurang bersemangat untuk menekuninya.
          Saat ini dia sudah menguasai 10 tarian Lombok,seperti tari Gagak Mandiq,tari Gandrung,tari Tangis,dll.Dia juga mempunyai 45 murid dari siswa SD sampai SMA.Di samping itu,dia juga melatih para pelajar di sekolah yang mengajarkan seni tari sebagai muatan lokal di Desa Lenek.Dia beserta anak didiknya juga diminta mengisi berbagai acara di tingkat kecamatan sampai Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.
          Meski pun obsesinya besar dalam perkembangan seni tari Lombok,tetapi penghasilan yang didapat terkadang tidak menentu.Kalau dalam pentas seni,ia hanya mendapat honor sekitar Rp 150.000 dan honor sebagai pengajar tari di sekolah Rp 50.000,tidak besar penghasilan dia dapat.
          Walau penghasilan minim,ia berharap suatu saat ia bisa masuk ke perguruan tinggi yang membuka jurusan seni tari.”Saya ingin punya pengetahuan teori,enggak cuma bisa menari karena praktik.”ujarnya.

Sumber:Kompas,Sabtu 19 Juli 2014
 

Komentar

Postingan Populer