Menyulap Batu Menjadi Apel...
Edy Antoro
·
Lahir :Surabaya,27 Mei 1958
·
Alamat :Jl.Ciamis Kota Malang,Jawa Timur
·
Pendidikan :Sarjana Pertanian Jurusan Agronomi Universitas
Negeri Jember (lulus 1983)
·
Penghargaan:Upakarti kategori IKM Modern dari Batu (2006)
·
Istri :Susana S
·
Anak :-Gideon Andika Satriyo
-Dizkia
Andina Kusumawardhani
-Abednego Andana
Perkasa Jaya
Edy
Antoro,seorang DirekturUtama Kusuma Agrowisata Group,yaitu sebuah perusahaan
yang bergerak di bidang agrobisnis wisata yang terkemuka/terkenal di kota
Batu.Dialah orang berperan mengenalkan kota Batu,Jawa Timur,sebagai kota
apel.Perusahaannya pun yang juga memperkenalkan petik hortikultura pertama
kalinya di Jawa Timur.Banyak sekali orang yang mengunjungi tempat wisatanya
tersebut.Bukan hanya dari pengunjung dalam dan luar negeri pun yang ingin
mengunjungi tempat tersebut,tetapi para pencari kerja pun banyak juga yang
ingin bekerja di perusahaan tersebut,bahkan sampai 3.000-an pekerja dari
seluruh divisi yang bekerja di perusahaannya.Pertumbuhan ekonomi perusahaannya
pun mencapai 35 persen setiap tahunnya.
Namun siapa
sangka,awalnya tempat usahanya yaitu Kusuma Agrowisata Group terbentuk dari
jerih payahnya yang bekerja keras mencangkul tanah selama tiga tahun
berturut-turut sebelum akhirnya mendapat hasil.Tanah dicangkulnya pun bukan
tanah yang subur melainkan tanah yang tandus berbatu,dan setiap harinya dia dan
anak buahnya mencangkul tanah tersebut untuk ditanam apel.
Awalnya banyak orang sekitarnya yang
meragukan dan tidak percaya bahwa tanah tandus seperti itu ditanam apel,bahkan
sampai ada yang mengatakan hal tersebut hanya membuang-buang uang.Tetapi,dia
punya keyakinan bahwa tanah tersebut bisa ditanam apel.Pada tahun 1989 pun ia
menanam apel untuk pertama kalinya di lahan tandus,tidak ada listrik,dan jauh
dari perkampungan.
Ia pun mencoba penanaman apel
pertamanya dengan menggunakan air PDAM yang menjadi sumber pengairan utama
dengan dibantu 60 orang pekerja.Penanaman pertamanya gagal,tetapi ia terus
mencoba beberapa kali,walau pada akhirnya gagal,bahkan tingkat kematian tanaman
apelnya mencapai 40 persen.Dia pun dari itu terus mencari ide/cara supaya tanaman
apelnya tidak mati.Akhirnya selama tiga tahun,tanamannya membuahkan hasil,ia
pun mencari bibit apel terbaik hingga ke luar Jawa.
Walaupun tanaman apelnya membuahkan hasil,tetapi
ia menemukan lagi permasalahan yaitu pada saat ia menjual 8 kuintal apelnya ke
pembeli di Surabaya.Harga apelnya dihargai Rp1.500 per kilogram dan harga
tersebut tidak sebanding dengan harga di pasaran Surabaya yaitu Rp 5.500 per
kilogramnya.Hal tersebut membuat dia ingin membuat supermarket di tengah kebun sendiri,karena
dia merasa sakit hati dengan pembeli yang memberi harga seenaknya dan tidak
menghargai jasa petani.
Keinginan membuat supermarket pun
terwujud pada tahun 1992 dengan konsep orang memetik apel langsung dari kebun
danbisa membawa pulang dengan membayar karcis Rp 5.000.Harga tersebut sama
dengan harga 1 kilogram apel di pasar.Edy pun mempromosikan sendiri wisata
petik apelnya itu dari hotel ke hotel,dari lokasi wisata ke lokasi wisata
lain.Hal tersebut membuat usahanya maju dan ia pun bisa mendirikan hotel
sendiri di sekitar kebun apelnya.
Tempat kebunnya itu menjadi tempat
wisata seperti yang disampaikan diatas.Dia juga membuat beragam oleh-oleh dari
bahan dasar apel seperti minuman sari apel,dodol apel,dll.
Edy pun ingin mengajarkan kepada kita
bahwa sesulit apa pun itu,kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh,akan membawa
hasil suatu ketika.Terbukti ia mampi menyulap bebatuan di tanahnya,menjadi apel
ranum yang segar.
Sumber:Kompas,Rabu,19 Maret 2014

Komentar
Posting Komentar