Donor ASI bagi 100 Bayi

 


Indar Wamindari
·        Lahir             :Sumedang,5 September 1984
·        Pendidikan   :S-1 Falkutas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran
·        Pekerjaan     :Pegawai negeri sipil pada Kementrian Pekerjaan Umum
·        Suami            :Andika Eka Prayoga (31)
·        Penghargaan:Kartini Award dari organisasi Wanita Indonesia Tanpa Tembakau,2014
·        Anak              :-Akhtar Dimitriy Prayoga
                         -Albarra Eshan Prayoga

Indar Wamindari (30), seorang pegawai negeri sipil asal Pondok Kelapa, Jakarta Timur awalnya tak menyangka akan menghasilkan ASI (Air Susu Ibu) sebanyak itu usai melahirkan anak pertamanya, Dimi, pada 2012. Hingga 2 hari setelah melahirkan, payudaranya bahkan tidak mengeluarkan ASI.

          Dengan tekat bulat, Indar yang kala itu sedang bertugas di Batam Kepulauan Riau menolak saran untuk memberikan susu formula pada anaknya meski hampir frustrasi karena belum juga bisa menyusui. Dari literatur yang dibacanya, Indar berkeyakinan bayinya masih sanggup bertahan tanpa ASI hingga 3 hari.

          Berkat kesabaran dan dukungan keluarga, ASI yang dinanti-nanti akhirnya keluar juga pada hari kedua. Bahkan, ASI yang dihasilkannya sangat berlimpah hingga dirinya kewalahan karena harus sering-sering dikeluarkan. Jika tidak, payudaranya akan bengkak dan sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa.

          Akibat produksi ASI yang berlimpah pula, 3 lemari es yang ada di rumahnya penuh dengan botol-botol ASI perah. Beberapa botol ASI perah sempat dibuang karena tidak terminum dan akhirnya kedaluarsa. Satu kulkas di rumah orang tuanya pun akhirnya harus menampung titipan ASI perah. Masih tidak cukup juga, Indar pun menyerah dan mulai menawarkan diri sebagai donor ASI di jejaring Path.


Sengaja dipilih Path karena sifatnya sangat personal, sebab Indar berharap hanya teman-teman di lingkaran dekat saja yang memanfaatkan. Tak disangka, informasi tersebut menyebar dari mulut ke mulut, salah satunya melalui mulut para kurir ASI yang membantunya mendistribusikan ASI perah
Keputusan Indar untuk mendonorkan ASI perahnya bukan tanpa pertimbangan. Setelah berkonsultasi dengan guru agama, ia menyimpulkan bahwa rencananya mendonorkan ASI akan memberikan manfaat bagi bayi-bayi yang punya masalah kesehatan. Daripada ASI perah Indar terbuang percuma karena kadaluarsa, Indar pun mantab mendonorkannya.

          Untuk mencegah adanya masalah pada anak-anaknya di kemudian hari terkait dengan 'saudara sepersusuan', Indar menetapkan syarat bahwa bayi yang menerima donor ASI perahnya harus laki-laki. Tak lain karena kedua anak Indar, Dimi (1 tahun 2 bulan) dan Bara (8 bulan) adalah laki-laki.

         Gagasan Indar untuk menjadi donor ASI bagi bayi-bayi yang membutuhkan, sampai juga ke telinga para pengurus Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT). Dalam rangkaian peringatan Hari Kartini baru-baru ini, WITT memberikan Kartini Award kepada Indar sebagai 'Ibu Pemberi ASI pada 100 Bayi'.

         Indar mendapatkan penghargaan tersebut bersama-sama dengan 6 perempuan lain, yang dianggap punya kontribusi di bidang kesehatan. Keenam peraih penghargaan tersebut adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, Ketua Yayasan Sulam Indonesia Trisna Jero Wacik, penyanyi kondang Titik Puspa, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur Nina Kirana Sukarwo, Ketua Kaukus Kesehatan DPR RI Sumaryati Aryoso, serta pramudi wanita Transjakarta Suhaeti.

         "Tidak tahu angka 100 itu dari mana, karena saya sendiri tidak mencatatnya. Saya kira memang banyak, tapi kalau 100 kok sepertinya nggak sampai segitu ya ha ha ha," pungkas Indar sambil tersenyum merendah.

Sumber:Kompas,Kamis 14 Agustus 2014


Komentar

Postingan Populer